Seperti pada hari-hari sebelumnya kerjaanku hanya mengerjakan pr,
belajar, dan belajar. Beginilah kehidupan seorang pelajar, apalagi saat ini aku
duduk dibangku kelas IX. Belajar dengan sungguh-sungguh supaya mendapatkan SMA
yang aku inginkan. Oh ia perkenalkan namaku Amelia, anak ke-2 dari 4
bersaudara.
Ketika aku sedang belajar, ponsel ku berbunyi. Aku segera
membuka handphone ku, ku fikir bbm dari Putri. Putri? Ya, Putri teman
dekatku di sekolah. Kedekatanku dengan Putri sudah cukup lama, bagaimana tidak?
Waktu kelas 7 aku sekelas sama dia tapi di kelas 7 aku tidak begitu dekat
dengannya, kelas 8 akupun juga sekelas dengannya, tidak kusangka ternyata di
kelas IX ini kita sekelas lagi.
“PING!!!”
“PING!!!”
“Amel?”
‘Huhhh mengganggu ku saja, siapa sih
ini? tidak tahu apa aku sedang belajar’ ucapku kesal. Akhirnya aku pun membalas
pesannya.
“Ya?” balasku singkat. Tidak perlu
menunggu lama akhirnya dia pun membalas pesanku
“Boleh kenalan gak? Gw Raka kelas IX-D”
‘Raka? Raka siapa ya? Minta kenalan
segala sih’ aku pun semakin penasaran olehnya. Besok paginya setiba disekolah aku
menanyakan ke teman-temanku, akupun di kasih tahu yang mana namanya Raka.
Kufikir dia akan lelah karna semalam aku balas bbm nya lama, bahkan sempat aku tidak balas tetapi dia tetap saja
membbm ku.
....
Semakin lama aku dan Raka bisa dibilang
semakin dekat. Di sekolah setiap bertemu denganku Raka selalu senyum kepadaku
dan menyapaku. Tak kusangka ternyata Raka menyukaiku, dia menyatakan suka
kepadaku secara langsung sekaligus meminta ku untuk jadi pacarnya. Aku pun
tidak langsung menjawab karna aku tidak yakin dengannya. Keesokan harinya aku
pun menjawab ‘ya’ padahal banyak teman-temanku tidak setuju dengan keputusanku
itu.
Mungkin karna memang nama Raka sudah
sedikit tercemar, tapi menurutku Raka baik trus dia gak buruk-buruk banget kok.
Akhirnya aku dan Raka berpacaran. Perasaan ku sedikit demi sedikit mulai
timbul.
Pada malam harinya, temanku mengirimkan
pesan kepadaku.
“Amel baik-baik aja kan sama Raka?”
tanyanya.
“Iya, baik-baik aja kok. Kenapa emang,
ris?” tanyaku kepada Riska. Ya, nama temanku ini Riska.
“Maafya bukan nya gua ngerusak hubungan
lu”
“Kenapa sih, ris?” tanyaku lagi. Riska
tak kunjung membalas pesanku ini.
“Kenapa sih, Riska? Bikin penasaran aja
deh” tanyaku semakin penasaran.
“Tapi jangan marah ya, mel.”
Riska pun membalas pesanku ini dengan mengirimkan bukti chatan
Raka dengan seseorang yang pernah dekat dengannya. Tanpa sadar airmata ku
menetes begitu saja. Segini hancurkah hatiku? Begitu jahatkah Raka kepadaku?
Kenapa dengan mudahnya aku menerimanya?
‘Bodoh banget sih mel jadi orang’ ucapku sebal kepada diriku
sendiri. Akhirnya aku pun mengakhiri hubungan yang menyakitkan ini. Teman-temanku
pun banyak yang menanyai ku, hampir sama pertanyaanya:
“Lu putus sama Raka?”
Tidak dapat kujelaskan, begitu hancur hatiku ketika mengetahui
kalau dia hanya menjadikanku pelarian atau entah pelampiasaannya saja. Semenjak
hari itu Raka setiap bertemu denganku tidak pernah menyapaku lagi.
....
Sampai saat ini, detik ini, menit ini aku pun masih
mencintainya. Sedangkan dia? Sudah bersama dengan orang lain. Ketika aku sedang
mendengarkan lagu ‘masih mencintainya’ aku pun ikut menyanyikan lagunya
‘ternyata ku masih memikirkannya, kekasih yang telah pergi, ku
tak bisa mengakhiri rasa ini’
Mungkin saat ini kita sudah tidak bersama lagi. Dan saat ini kau
telah menemukan perempuan yang tepat untuk mengisi hari-harimu.
‘Mungkinkah
kita kan bersama lagi, seperti kisah yang lalu, haruskah aku memohon tolong
aku, rasa ini menyiksa batinku’
Tak adakah
namaku setitik yang masih tersimpan di hatimu? Rasa cinta yang tidak dapat
terbalas lagi olehmu. Rasanya itu amat sangat sakit, begitu sakit ketika
mengingat saat masih menjadi kita.
‘ku masih mencintainya, ku tak peduli walau dirinya, telah ada
yang memiliki, sungguh ku ingin selalu dengannya’
Aku masih
mencintainya, masih menyayanginya dan masih mencari tahu tentangnya. Tapi apakah
dia mencintaiku, menyayangiku, dan mencari tahu tentangku? Sepertinya tidak,
dia sudah dengan perempuan lain yang lebih tepat untuknya.
‘ku masih mengharapkannya, ku rela walau harus terluka. ku hanya
ingin dia tahu, ku masih mencintai dirinya’
Terluka? Ya,
terluka ketika harus melihat dia selalu bersama. Sakit sekali rasanya. Ingin menangis,
mengeluarkan semua sesak dihati, hem... sepertinya tidak mungkin. Seakan-akan
aku menunjukkan diriku sendiri lemah. Sebenarnya, memang lemah dan rapuh sekali.
‘Haruskah aku memohon tolong aku, rasa ini menyiksa batinku’
Tuhan.....
tolong kuatkanlah aku untuk menjalankan hari-hariku ini dengan penuh senyuman,
semangatilah aku dengan penuh kasih sayangmu, berilah kemudahan untukku.
‘Ku masih mencintainya, ku tak peduli walau dirinya, telah ada
yang memiliki, sungguh ku ingin selalu dengannya’
Seperti bintang-bintang hilang di telan malam. Bagai harus
melangkah tanpa ku tahu arah, lepaskan aku dari derita tak bertepi saat kau tak
di sini.
‘Ku masih mengharapkannya, ku rela walau harus terluka. Ku hanya
ingin dia tahu, ku masih mencintai dirinya’
Aku tak pernah mencoba melupakanmu, yang aku lakukan membiarkan
perasaan ini mengalir dengan sendirinya, hingga aku tak mengingatnya lagi.
‘Ku hanya ingin dia tahu, ku masih mencintai dirinya’
Terimakasih sudah membuat aku nyaman dan bertahan dengan
perasaan yang tersakiti. Mungkin saat ini kau sudah tidak menganggapku ada
meski aku tepat didepan matamu, akan selalu ku ingat ketika kita awal bertemu,
dekat, dekat, dan semakin dekat, lalu pada akhirnya kita pun semakin jauh. Terimakasih......
Tak ku kira airmata ku mengalir begitu deras ketika aku
mendengarkan lagu ‘masih mencintainya’ ini. Saat ini kita sama-sama berjuang. Aku
berjuang melupakanmu, dan kamu berjuang mempertahankan perempuan yang saat ini
bersamamu.
Kenangan hanya dapat kita ingat, tidak dapat kita mulai buat
lagi seperti masa depan.
Selesai
Maafkan corat-coretan blog daku yang gak jelas ini hehe. Terus stalk
postingan blog daku yaaaa. Makasihhhh


